Jumat, 05 April 2013

PENERAPAN MODEL THINK PAIR AND SHARE TERHADAP PENINGKATAN UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA SMA 1 MATTIROBULU


PENERAPAN MODEL THINK PAIR AND SHARE TERHADAP PENINGKATAN UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA SMA 1 MATTIROBULU

Oleh
Kartini kadir
106704048
Pendidikan Sosiologi
a.   Identifikasi Masalah
1.     Dalam pembelajaran guru menggunakan metode ceramah tanpa variasi metode lain.
Penyebab rendahnya hasil belajar siswa adalah cara mengajar guru yang hanya menggunakan metode ceramah, membuat siswa bosan dan tidak semangat dalam belajar. Di dalam kegiatan pembelajaran guru tidak melakukan apersepsi, guru tidak menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Guru juga belum menerapkan model-model pembelajaran, sehingga proses pembelajaran kurang aktif. Ini yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa karena kurangnya aktivitas siswa dalam belajar.
Hal ini dapat berdampak negatif bagi siswa, siswa menjadi bosan dan jenuh dalam belajar, siswa menjadi malas belajar, proses belajar mengajar menjadi monoton, siswa sibuk sendiri tanpa memperhatikan pelajaran yang sedang diajarkan serta tujuan pembelajaran yang diinginkan tidak berjalan dengan baik,ini dikarenakan guru kurang memahami betul model-model pembelajaran.
2.    Pembelajaran Sosiologi masih ditekankan pada kemampuan menghafal materi, sementara ranah afektif (sikap) belum mendapat perhatian dari guru.
3.    Siswa cenderung bosan pada saat pembelajaran berlangsung.
Sosiologi yang termasuk dalam ilmu sosial ternyata dianggap membosankan oleh sebagian siswa karena sajiannya yang monoton dan terlalu abstrak. Adapun untuk menguasainya dibutuhkan kemampuan menghafal yang tinggi. Stereotif yang tidak menyenangkan ini terbentuk sebagai akibat masa lampau (pengajaran konvensional) yang dalam penyajiannya tidak relevan dengan konteks sosial siswa.
4.    Pada saat pembelajaran berlangsung banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru.
Situasi dan kondisi belajar yang tidak nyaman dan kurang variatif seperti penggunaan metode ceramah yang kerap digunakan guru, minimnya penggunaan media, dan lain-lain juga semakin memperparah keadaan. Para guru cenderung menggunakan model konvensional, yang paling umum diterapkan di sekolah. Rasa tidak suka yang dimiliki oleh peserta didik secara otomatis menyebabkan motivasi belajar menurun dan mengakibatkan kesulitan untuk memahami Sosiologi semakin bertambah. Jika diadakan evaluasi para siswa tidak mengerti, sehingga pada akhirnya peserta didik menyimpulkan bahwa mata pelajaran Sosiologi sulit dan menjenuhkan.

b.  Memfokuskan Masalah
Berdasarkan hasil masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran yang menjadi objek penelitian yang berfokus pada rendahnya minat belajar siswa karena guru yang kurang variatif terhadap pembelajaran yang dilakukan karena hanya menggunakan metode ceramah yang dianggap siswa membosankan. Untuk itu, guru diharapkan mampu memberikan sesuatu yang baru terhadap siswa agar dalam proses pembelajaran tetap berjalan. Selain itu, menerapkan pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan dapat  meningkatkan gairah belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran think pair and share.
c.   Memprioritaskan masalah
Guru yang kreatif senantiasa mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang datar, melainkan memilih variasi lain yang sesuai dengan tingkat kecerdasan siswa yang berbeda. Kesiapan mengajar guru ditentukan oleh kemampuan dan kemauan guru. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana guru dapat menciptakan suatu proses pengajaran yang dinamis. Pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar bukannya hanya menggunakan metode ceramah yang membosankan. Pembelajaran tersebut juga harus mampu meningkatkan pemahaman siswa pada materi yang dibawakan guru.
Masalah yang dijelaskan diatas lebih diprorioritaskan pada peningkatan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran. Dengan memberikan inovasi terhadap pembelajaran maka dapat meningkatkan minat siswa berkomunikasi dengan siswa lainnya pada penggunaan model Think Pair and Share melalui model yang dapat mengaktifkan semua siswa.


d.  Menganalisis Masalah dan Penyebab Masalah
Dari masalah diatas hal-hal yang perlu dianalisis dalam proses pembelajaran yaitu minat belajar siswa dan strategi–strategi yang digunakan untuk meningkatkan minat belajar. Dengan metode-metode yang kondusif yang digunakan guru dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan  prestasi yang diperolehnya melalui hasil belajar yang memuaskan.
Minat belajar dapat diperoleh siswa melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru. Kemampuan guru dalam mengajar diharapkan mampu meningkatkan minat belajar siswa.
Strategi untuk meningkatkan minat belajar siswa diantaranya :
·         Memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar
·         Memberikan imbalan/hadiah kepada siswa yang berprestasi agar mempertahankan prestasi siswa
·         Memberikan Pujian kepada siswa untuk meningkatkan gairah belajar siswa
·         Menggunakan metode yang bervariasi sehingga proses pembelajaran tidak jenuh/membosankan.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran yaitu :
·         Faktor Siswa
Siswa dalam proses pembelajaran biasanya kurang serius dikarenakan suasana yang membosankan atau metode yang digunakan guru hanya berfokus pada satu bentuk, misalnya metode ceramah.
·         Faktor Guru
Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai teladan bagi siswa tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Efektifitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas kemampuan guru (Wina Sanjaya, 2006: 20). Kegagalan guru dalam mengkonstruksi dan mengelola pembelajaran akan mengakibatkan ketidakberhasilan bagi peserta didik. Selain peserta didik kehilangan minat dan perhatian dalam pembelajaran itu, mereka juga kehilangan motivasi untuk belajar.
·         Faktor Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah akan mendukung proses belajar mengajar. Demikian juga sebaliknya jika sarana dan prasarana tidak memadai maka akan menghambat proses belajar mengajar. Guru dan pihak sekolah harus tetap memperhatikan komponen sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran yang efektif.
·         Faktor Lingkungan
Lingkungan disekitar sekolah kurang mendukung sehingga mengganggu proses pembelajaran dikelas.Oleh karena itu siswa tidak dapat menerima pembelajaran dengan baik.
e.   Alternatif Penyelesaian Masalah
Melihat dari permasalahan di atas, solusi yang dapat ditempuh yakni mencari pendekatan pembelajaran efektif yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Salah satu pendekatan yang relevan dan dianggap efektif yaitu dengan model pembelajaran Think Pair and Share.
Model Pembelajaran Think Pair and Share menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran.
Langkah-Langkah Pembelajaran
a.    Guru menyampaikan inti materi
b.    Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
c.    Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
d.    Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/permasalahan yang belum diungkap siswa
e.     Kesimpulan
Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).
Langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair-Share sederhana, namun penting trutama dalam menghindari kesalahan-kesalahan kerja kelompok (http: // home. att-net/_clnetwork/think ps.htm). Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagai berikut:
Tahap 1 : Thingking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2 : Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
Tahap 3 : Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Kegiatan “berpikir-berpasaangan-berbagi” dalam model Think-Pair-Share
memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat.
Dengan Demikian, Dapat Disimpulkan Dari Masalah Yang Dihadapi Guru Sosiologi Maka Diangkat Judul Ptk yaitu:
“Penerapan Model Think Pair And Share Terhadap Peningkatan Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Sma 1 Mattirobulu”.

0 komentar:

Poskan Komentar